Dec 18, 2011

Alasan yang bukan Alasan


Hal-hal yang melatar belakangi gue terjun ke Stand Up Comedy, tidak hanya karena ingin menjajalkan diri dan menciptakan sesuatu yang belum pernah gue coba di dalam hidup. Tidak.

Gue selalu percaya, untuk melakukan sebuah perubahan, hal yang pertama harus kita lakukan adalah
menertawakan diri sendiri. Dulu gue pernah ngalamin suatu masa dimana gue gak berani untuk menyatakan perasaan suka ke seorang cewek. Itu gak enak banget. Dan gue memutuskan untuk memendamnya aja. Padahal hubungan gue sudah terasa deket. Karena takut dan bodohnya gue, gue membiarkan hubungan itu tetap seperti biasa. Malahan semakin lama gue melihat suatu perubahan yang tidak biasa dari cewek itu. Dia mulai agak menjauh. Tapi akhirnya gue sadar. “Apa yang gue harapkan dari hanya berdiam?” Dapat terlihat jelas betapa bodohnya gue.

Dari situ gue mulai menertawakan diri sendiri. Akan kebodohan yang sudah gue lakukan. Akan sikap gue yang membuat dia untuk menunggu terlalu lama, dan gerah. Dan akan-akan yang telah berjalan tanpa di dampingi oleh segenggam keberanian.

Apa yang membuat gue bisa mengambil sebuah keputusan untuk suatu perubahan? Apa yang menjadi jembatan atas keberanian yang telah gue temukan?

Tidak dapat di pungkiri, jawabannya terdapat pada sebuah “Seni Menertawakan Diri Sendiri.” "Seni?" Kenapa disebut seni? Karena memerlukan mental dan riset untuk melakukannya.

Bagaimana dengan Stand Up Comedy?

Comedy ini menyuguhkan point yang gue sebutkan diatas. Menertawakan. Terkadang sedih yang berlarut-larut harus di siram dengan tawa yang menyembuhkan..

Inilah alasan kenapa gue ikut mencemplungkan diri ke dalam rana yang di beri nama, “Stand Up Comedy.”

No comments:

Post a Comment