Setiap keringat dia mengingat, elo. Apakah takdir selalu pilih kasih? Apakah mereka yang di ingat melihat akan perbedaan takdir? Kemanakah takdir ...
Sewaktu gue SD, gue masuk di lingkungan yang tidak terlalu menampakkan kesenjangan sosial. Yang membedakannya mungkin hanya kecerdasan kami dalam sekolah. Selama gue sekolah, salah seorang temen gue (Ulfah Fahdiyanti) semenjak kelas satu sampai empat SD itu dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Dia memang anak yang pintar. Bagaimana tidak, selama empat tahun berturut-turut dia mampu mempertahankan posisinya di peringkat pertama.
Selama gue SD, gue bukan murid yang pintar.
Gue hanya dua kali masuk peringkat 10 besar. Yaitu pada kelas 4 SD yang mendapatkan peringkat 8 (Saat itu gue deket sama wali kelasnya) dan di kelas 5 SD gue mendapat peringkat 10. Agak menurun memang, tapi gue biasa saja. Penurunan peringkat ini tidak membuat gue kaget. Karena sebelumnya pada kelas 2 gue pernah mendapatkan peringkat ke 2 juga dari belakang, Gue pun masih biasa-biasa saja. Karena seenggaknya masih ada satu orang lagi di belakang gue yang nggak tahu setelah pengambilan rapor itu dia bakalan diapakan oleh orang tuanya...
Sekolah dasar, tempat gue selalu di ingatkan waktu oleh orang tua gue (lebih tepatnya sama nyokap). Siang sepulang sekolah beberapa jam gue di ingatkan untuk berangkat ngaji. Gue di masukkan ke TPA dekat rumah pada saat itu. Buat angkatannya Arumi bachsin mungkin ada yang nggak tahu TPA itu apa. Jadi, TPA itu adalah tempat dimana kita belajar agama islam. Disini gue agak terlambat masuknya karena pada saat gue baru memulai membaca iqro satu, teman-teman seangkatan gue yang lain sudah ada yang iqro empat dan bahkan sudah ada juga yang sampai Al-Quran. Gue agak malas awalnya karena ketinggalan sama teman-teman yang lain. Tapi guru gue waktu itu pernah mengatakan sepenggal kata seperti ini "Man Jadda Wajada" yang artinya "Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia bisa." Akhirnya dari sini gue bertekat untuk membalap teman gue. Walau memang terdengar nggak mungkin. :)
Selain masuk TPA, gue masih ada satu kegiatan lagi yang tidak bosan-bosannya nyokap ingatkan di mulai saat kenaikan kelas 4, yaitu "kursus semua mata pelajaran." Mungkin pengambilan keputusan ini atas dasar peringkat 2 dari belakang yang sempat gue torehkan di rapor berwarna merah itu. Tempat kursusnya tidak jauh dari rumah. Gue hanya perlu berjalan kaki untuk sampai kesana. "Mbak Mira" inilah nama guru kursus gue. Dia adalah salah satu mahasiswi UI. Orangnya sangat pintar. Awalnya gue disana kursus hanya sendirian. Seiring berjalannya waktu, (maaf, sejujurnya gue gak pengen pakai kata ini, "Seiring berjalannya waktu" tapi gue bingung apa kata yang pas untuk menggantikannya) Iya, akhirnya bertambah 2 orang lagi yang kursus, gue jadi bertiga. Dua orang ini sebelumnya gue memang sudah kenal, jadi nggak canggung lagi. Cowok Cewek, yang satu namanya Pipit dan yang cowok namanya Yudha. Pipit ini usianya diatas gue 4 tahun, dan Yudha dibawah gue 1 tahun.
Sebelumnya gue tidak merasa ada perbedaan antara gue dan mereka. Gue bergantian di ajarkannya. Setelah gue selesai di ajarkan oleh mbak Mira, mulai lah waktunya pipit yang dibimbing sama mbak Mira. Pipit ini walaupun usianya beda 4 tahun di atas gue tapi dia pada saat itu berada di kelas 5 SD, jadi hanya beda 1 angkatan di atas gue. Pipit memulai kursus pertamanya dengan mengeluarkan buku matematika. Dan yang membuat gue kaget, pelajarannya hanya tambah-tambahan. Pelajaran yang nampaknya gue dapatkan di kelas 1 atau 2 SD.
Setelah gue tahu ternyata Pipit ini adalah salah satu dari penderita cacat mental. Maka dari itu masuk lah Pipit di sekolah luar biasa (SLB) yang tidak jauh dari rumah. Dari sini gue mulai menyimpulkan, "mungkin orang seperti dia tidak pernah berpikir ingin seperti elo, tapi pernahkah elo tahu gimana berada diposisi dia, rasanya dia.."
Satu waktu gue kerumah Pipit. Ada yang membuat gue tercengang pada saat mulai masuk ke dalam rumahnya. Disana gue temui banyak sekali piala-piala. Gue sama sekali nggak berpikir kalau piala itu milik. Sampai saat piala itu gue genggam, dan membaca nama yang tertulis disana, ternyata hilanglah ke tidak mungkinan itu, karena tidak salah nama Pipit lah yang tertulis di situ. Atletik, itulah bidang yang di tekuninya di sekolahnya. Tidak bisa dipungkiri, ada yang membuat tangan gue sampai pada satu piala yang menurut gue sangat menarik. Setelah gue baca apa yang tertulis disana, akhirnya gue tahu. "Pipit pernah ke luar negeri, dan memenangkan piala yang ada di tangan gue sekarang ini.."
Jika sudah selesai kursus. Nyokap menyuruh gue untuk tidur ...
No comments:
Post a Comment