Sep 26, 2011

Mikir

Gue suka tidak mengerti dengan mereka yang jelas-jelas salah dalam sesuatu hal, tetapi tetap berkelit bahwa dirinya tidak bersalah. Contoh kecil : "Elo janjian sama seseorang (siapapun itu) di suatu tempat (mall) misalnya pada jam 16:00. Elo datang tepat waktu, teman lo datang 1 jam kemudian, beralasan, " ya Biasa lah macet, (Jakarta) toh kita semua pasti pernah terlambat, kan?"

Jika gue dalam keadaan ini,
sejujurnya gue berharap banget kepada elo, bukan kalimat itu yang seharusnya lo katakan. Kalimat itu menyatakan bahwa elo sama sekali tidak menghargai gue yang sudah menunggu elo lama. Dengan kalimat itu mungkin elo juga ingin membuat gue jadi orang yang terkesan salah. Dan elo berharap gue dapat memaklumi. Mungkinkah ini yang lo minta?

Satu hal yang membuat gue tidak mengerti. Masa elo tega memposisikan gue sama seperti lo, padahal jelas-jelas disini gue yang di korbankan. Kenapa kesalahannya terkesan dibagi dua? Mungkin ada dari elo yang ingin mengatakan bahwa berarti dengan begitu gue "menunggunya" tidak ikhlas? Sekarang gue tanya balik. Apakah elo tega melihat orang yang ikhlas disalah-salahkan?

Gue disini bukan membicarakan orang-orang yang suka datang terlambat. Melainkan alasan dibalik keterlambatan tersebut. Masalah keterlambatan ini cuma contoh. Karena bisa jadi kekesalan yang elo alami bukan seperti penggambaran ini, mungkin dalam masalah lain. :)

Kalau gue tanya, Kesal gak sih lo jika ada orang yang terlambat, lalu elo di sama ratakan dengan mereka? Sama-sama jadi salah?
Atau mungkin gue akan bertanya, sanggupkah elo mendiamkan hal-hal ini?

Mungkin dulu gue adalah orang yang tolol karena terkadang gue malah mengambil sikap pasrah dengan hal-hal yang seperti ini. Sekarang kalau di pikir-pikir lagi, dulu gue tolol banget, ya! -_-*

Sekarang gue tidak bisa diam jika berhadapan dengan orang seperti ini. Sangat memungkinkan sekali ini terjadi pada teman gue sendiri. Orang yang sebenarnya telah gue kenal, dan dia kenal gue.

Gue lebih baik dimusuhi dari pada sejalan dengan kebodohan.

Dan gue ingat kata-kata seseorang.

"Lebih baik diasingkan dari pada menyerah dalam kemunafikan." - Soe Hok Gie

"Lebih baik gue jujur dan terhina dari pada gue bohong agar diterima masyarakat." Pandji Pragiwaksono

No comments:

Post a Comment