Siapa bilang hidup di Jakarta itu menyenangkan? Siapa yang bilang hidup di Jakarta itu mudah? Dan benarkah seseorang yang datang dari kampung ke Jakarta yang tidak memiliki kemampuan kerja itu bisa kaya? Sepertinya ini adalah pertanyaan yang lazimnya orang –orang tanyakan tentang ibukota Indonesia yaitu “JAKARTA”,
yang katanya sangat menjanjikan dan sangat menggiurkan. Tapi di sini saya bukan ingin membicarakan tentang elemen-elemen pemerintahan yang menurut sebagian besar orang itu adalah masalah yang “ribet”.
yang katanya sangat menjanjikan dan sangat menggiurkan. Tapi di sini saya bukan ingin membicarakan tentang elemen-elemen pemerintahan yang menurut sebagian besar orang itu adalah masalah yang “ribet”.
Rahmat hidayat, itulah nama yang di berikan oleh kedua orang tuanya. Dimana kedua orang tuanya berharap agar anaknnya selalu diberikan rahmat dari Sang Pencipta. Dia memiliki badan yang ringkih tinggi. Rahmat Hidayat, ialah seorang anak kecil yang lahir di keluarga yang bisa di bilang kurang beruntung dalam sisi ekonominya. Dia memiliki keluarga yang komplit. Ayah, ibu, dan dua orang kakak. sayangnya kakak pertamanya meninggal dunia pada umur yang masih muda karena mengidap penyakit liver. Bagaimana mungkin mau di bawa ke rumah sakit. Waktu ibu Rahmat sakit demam tinggi saja hanya obat warung yang menjadi harapan untuk menyembuhkannya. Padahal dalam keluarga kecil ini mengharapkan seorang anak yang paling tua ini dapat memperbaiki status ekonomi keluarga. Dan sayangnya takdir berkehendak lain.
Beberapa bulan setelah setelah kematian sang kakak pertama, kejadian menyedihkan kembali datang kepada keluarga kecil ini. sang ayah yang bekerja tiba-tiba dalam suatu tugas kerjanya mengalami kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh. buruh kasar (kuli bangunan) itu yang dikerjakannya. Beliau jatuh dari atap gedung yang sedang dibangunnya. Dan keadaan ini mengharuskan sosok ibu yang biasanya ada di rumah di tuntut juga untuk menopang perekonomian keluarganya. Sang ibu akhirnya memutuskan menjadi pembantu rumah tangga di suatu rumah yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Setelah kematian kakaknya dan ayahnya yang sekarang sudah tidak dapat bekerja lagi Rahmat di rumah menjadi lebih banyak berdiam diri, padahal sebenarnya Rahmat memiliki perangai yang ceria, mudah bergaul dan ringan tangan. Umur Rahmat sekarang 12 tahun, seharusnya di umur yang ini ia sekarang berada di bangku SMP kelas 1. Sang ibu sudah tidak mampu lagi membiayai Rahmat untuk sekolah, karena pendapatan dari pekerjaannya ibu hanya dapat dipergunakan untuk kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga di bangku kelas 6 SD Rahmat berhenti sekolah.
Rumah itu terlihat begitu sepi saat siang tiba, hanya meninggalkan sang ayah yang setia menunggu di rumah. Sang ibu pergi untuk bekerja di tempat yang tidak begitu jauh dari rumahnya, dan Rahmat beberapa hari belakangan lebih sering terlihat di perempatan jalan Ibukota. Rutinitas ini yang di lakukan Rahmat setiap hari tanpa merasa lelah, capek, ataupun terpaksa. karena baginya tidak ada yang sia-sia dan tidak ada yang tidak adil dalam hidup ini. Semuanya telah mempunyai jalannya masing-masing. Satu yang pasti bagi Rahmat, hidup itu harus terus berjalan.
Dan sehari sebelum saya posting ini sang ayah Rahmat Hidayat meninggal dunia.
Terus berjalan Rahmat, roda kehidupan akan terus berputar... Dan terus berputar.
No comments:
Post a Comment